Minggu, 17 Januari 2016

Sambutan Hangatmu Kala Aku Pulang

Ada banyak hal yang aku rindukan ketika lama tak bisa pulang ke rumah. Salah satunya pelukan hangat keponakan terlucuku untuk saat ini yang kerap kali mengejutkan. Pelukan yang selalu dia berikan ketika pertama kali tahu kalau tantenya yang cantik ini pulang, hehe. Pelukan tanda ucapan selamat datang sembari menanyakan, 
Te Hen, kenapa nggak pulang-pulang ke rumahnya Uti sama Kakung? Padahal Mamas sering nunggu Te Hen, tapi Te Hen nggak pulang-pulang.”      

Tahukah bagaimana perasaannya ketika mendengar langsung perkataan jujur dari mulut laki-laki kecil ini? Bahagia, terharu dan perasaan membuncah lainnya yang membuat hati siapapun menjadi luluh karenanya. Seketika itu pula banyak kontrak yang harus kulakukan bersamanya.
“Mau mandi sama siapa?”
“Te Hen.”
“Mau makan sama siapa?”
“Te Hen”

Dan banyak kontrak lainnya yang bila aku tulis maka akan menjadi seperti naskah drama nantinya. Bahkan, seringkali aku dibuat sibuk mondar-mandir olehnya. Iya, mondar-mandir untuk masak atau pekerjaan rumah lainnya dan menemani dia bermain. Jika aku berlama-lama pada pekerjaan rumah maka akan terjadi babak kedua dalam drama,
“Te Hen, kesini???”
“Sebentar Mas Reyhan, tante lagi masak…”
“Jangan lama-lama.”
“Iya, sebentar lagi...”

Itulah salah satu kesibukan baruku ketika aku pulang. Kesibukan yang justru membuat kerinduan yang mendalam bila tak kunjung bisa pulang….


Sesuatu yang Sulit Kudapatkan Disini

Hampir sebagian besar waktu ku habiskan di kota ini sekarang. Yaa, karena aku kini sudah menjadi anak rantau dan tentu saja rumah kedua buatku disini adalah kost. Lain hal nya jika aku berada di Kebumen, tentu saja rumah pertamaku yaaa rumahku itu. Di tempatku belajar sekarangpun aku juga merasa kesulitan mendapatkan sesuatu itu. Lain halnya ketika SMA dulu, hampir setiap hari aku bisa mendapatkannya.
Sesuatu yang kumaksudkan disini adalah sesuatu yang sederhana di mata orang. Namun tidak bagiku. Karena dengannya lah aku bisa merasakan kedamaian dan ketenangan. Dengannya pula seringkali aku merasa takjub dengan kekuasaan-Nya. Memandanginya pun membuat ku tersadar akan kecilnya diriku ini di mata Allah. 


Sesuatu itu yakni melihat langit yang dihiasi indahnya awan


Ketika SMA dulu sering kuhabiskan waktuku untuk memandanginya sembari duduk di depan kelas kala istirahat, di lapangan, di mushola kala selesai sholat, bahkan memandangi langit sore kala enggan pulang lebih awal ke rumah, tentunya dengan kegemaranku yakni ngobrol. Ngobrol dengan teman seangkatan atau bahkan adik kelas. Jarang kunikmati hal ini ketika ngobrol bersama kakak tingkat. Entahlah kenapa bisa begitu. Rasa-rasanya ketika ngobrol dengan mereka,  hati kecilku sulit terbawa serta.
Memandangi langit memang menjadi salah satu hal favoritku. Di rumahpun sama. Hal ini sering kulakukan kala aku bosan. Bosan dengan rutinitas, atau kala aku butuh menyendiri. Di teras rumahlah tempat yang sering kujadikan tempat “semedi” ku. 


Yaaa, itu kala aku masih menghabiskan sebagian besar waktuku disana. Kini, di tempatku sekarang ini, hal itu sangat sulit kudapatkan. Selain karena bangunan yang tinggi juga karena memang sudah berbeda rutinitas yang kujalankan sekarang. Misalnya saja di kost, sangat sulit aku bisa memandangi langit lama-lama. Aku bisa melihatnya tatkala antri kamar mandi di pagi & sore hari  atau saat sedang menjemur pakaian. Ini karena, kamarku disini letaknya di bawah, tidak dilantai atas. Secara otomatis akses untuk memandang langit luas sangatlah minim. 


Lain halnya ketika di kampus. Aku hanya bisa menikmati ini tatkala aku di masjid kampus. Itupun tak bisa berlama-lama. Disanalah ada satu tempat favorit yang bisa kujadikan tempat “semedi” ku. Namun, lagi-lagi karena memang rutinitas yang dijalankan disini sudah berbeda dari yang dulu, kegiatan favoritku ini sulit terlaksana. Seringkali memang aku duduk-duduk di depan laboratorium, hampir setiap hari malah. Tapi ya itu, waktu yang ku habiskan di tempat itu hanyalah untuk “berkomat-kamit” melafalkan dzikir-dzikir materi pre-test sembari menunggu jam kuliah praktikum. 


Inilah alasan mengapa kusematkan judul “Sesuatu yang Sulit Kudapatkan Disini” di tulisan ini. O ya, kegemaranku ini ternyata juga menjadi kegemaran ‘Aisyah r.a isteri Rasulullah dan ayahnya, Abu Bakar Ash-Shidiq. Aku tahu hal ini setelah kuselesaikan membaca buku biografi tentang beliau, ‘Aisyah r.a. Mereka senang sekali menghabiskan waktu bersama untuk memandangi langit di pagi hari maupun saat petang datang. Semburat warna biru dan orange yang sebenarnya kontras, namun karena dilukiskan oleh Yang Maha memiliki keindahan, jadilah fenomena ini begitu menakjubkan. Tak ubahnya dengan pemandangan langit malam hari. Sungguh, bentuk keindahan yang Allah tawarkan kepada manusia agar manusia bisa berpikir dengannya. 
Maka, nikmat Tuhanmu yang mana kah yang kamu dustakan?”, ayat Al-Qur’an yang sering diulang-ulang dalam Q.S Ar-Rahman. Memang benar adanya, begitu banyak kenikmatan yang telah Allah berikan pada hamba-Nya. Namun banyak hamba yang kurang bersyukur atau bahkan mengkufuri nikmat. Inilah nasihat yang pantas disematkan pada diriku ini. 


Ada satu hal yang aku impikan, yakni memiliki rumah yang mempunyai akses luas untuk menyalurkan kegemaranku ini bersama seseorang yang menggenapkan separuh agamaku dan malaikat-malaikat kecil kami nanti. Tak perlu megah, tak perlu mewah. Rumah sederhana yang dipenuhi cinta karena Allah, sudah cukup bagiku untuk merasakan indahnya kebahagiaan. Di temani semilir angin, hijau dan rindangnya pepohonan,  aku ingin menghabiskan waktu bersama untuk saling bercengkerama dan berbagi cerita kehidupan bersama mereka.


Teruntuk Imamku Kelak


Kau
Iya, kau
Kau, yang aku tak tahu siapa dirimu
Kau, yang aku juga tak tahu dimanakah dirimu kini
Kau, yang masih menjadi misteri hingga detik ini
Kau, yang aku yakini menjadi bagian dari diriku, karena aku telah tercipta dari tulang rusukmu
Kau, yang telah ditakdirkan Allah untuk menjemputku dalam indahnya balutan kasih suci nan murni

Kau, yang kuyakini sedang bersama-sama berjuang memantaskan diri
Kau, yang kuyakini juga sama-sama sedang menjaga hati
Ingin kukatakan sesuatu padamu,
Ketika Allah telah persatukan kita nanti, aku mohon terangkanlah padaku apa-apa yang kau senangi dan juga apa-apa yang tak kau sukai
Ini kuminta, karena sebelum ini hanya ayah dan kakak ku lah laki-laki yang aku kenali dan aku pahami
Ketika kau bersamaku nanti, kaulah laki-laki asing yang menjadi kunci surgaku nanti, bukan lagi terletak pada ibu yang telah melahirkanku ini



Kau
Iya, kau
Kau, yang masih menjadi rahasia Illahi
Kau, yang akan mengisi sisa-sisa kehidupan bersamaku nanti
Terangkanlah padaku apa-apa yang tak kau sukai dan juga apa-apa yang tak kau senangi
Ini kuminta pada dirimu, karena ridho Allah padaku terletak pada ridhomu
Ketaatan padamu lah yang menjadikan ku bisa menginjakkan kaki di surga nanti


Kau, yang menjadi imamku nanti
Ingin kukatakan padamu sekali lagi
Aku sadar, aku telah tercipta dari tulang rusuk mu yang bengkok
Jika ku berbuat salah nanti, nasihatilah diri ini dengan halus cintamu dan sentuhan lembut kasih sayang mu
Ingatkanlah aku dengan lembut katamu
Ini kuminta padamu, karena akulah tulang rusuk bengkok mu
Tulang rusuk yang bila kau paksakan untuk lurus, maka aku akan patah, tapi bila kau biarkan semakin bertambah bengkoklah diri ini
Ingatkanlah aku dengan hatimu
Ingatkanlah padaku akan janji-janji Allah tentang surga nan abadi yang akan kita singgahi bersama nanti
Maka aku akan sadar akan khilafku ini

Minggu, 20 September 2015

MENJADI OBAT NYAMUK

CAFETARIA. Tempat ku mencari bahan-bahan materi untuk setumpuk laporan praktikumku, kini berubah menjadi tempat yang tak cukup nyaman lagi. Beberapa menit ku tinggalkan karena harus kembali ke kost, mendadak berubah menjadi tempat kontes mesra kawula muda.

Yang lebih menyesakkkan hati adalah, AKU MENJADI OBAT NYAMUK BAGI SEPASANG MODEL MESRA INI.

Oke, mendengarkan celoteh mereka cukup membuat suasana sedikit riang, meski aku tak paham apa yang mereka bicarakan.

Tak menggubris apa sedang pasangan ini bicarakan, ku arahkan mata ini ke depan. Dan lagi-lagi, aku kembali melihat kontes yang sama.
"Ooohh kawan tidakkah kalian mengerti arti muka ku yang suntuk ini? Sedari tadi mencari-cari bahan materi untuk laporan ku ini?"

Alhamdulillah, menjelang pukul 16.00, suasana kesukaan ku kembali. Kembali sepi, dan tentunya terdengar riuh rendah suara angin yang menyapu pepohonan di tempat ini. Suasana syahdu dan romantis untuk sekedar menuliskan kata-kata di halaman ini.  Namun, aku tak bisa lama-lama disinii. Beberapa kewajiban yang segera aku selesaikan, karena deadline sudah menunggu. 

RINDU

Hampir 2 bulan lamanya aku tak singgahi tempat ini. Tempat yang hampir setiap minggunya ku datangi. Datang kesini memang tak sekedar untuk melepas kepenatan, melamun, merasakan segarnya udara & sunyinya suasana tanpa riuh riang teman-teman satu kampus, tetapi juga untuk mencari bahan-bahan tugas yang setiap minggunya selalu menanti untuk diajak bermain bersama pena. Cafetaria. Ya, tempat ini hanya ku singgahi setiap akhir pekan. Aku sengaja memilih hari Minggu untuk nongkrong sendirian disini. Bukan tanpa alasan. Yang jelas wifi di hari Minggu adalah kenyamanan yang menjadi nomor satu. Dan alasan mengapa sendiri, karena memang tak ada yang menemani untuk saat ini.

Well, bukan itu semua yang akan aku ceritakan di halaman rumah ku ini.
Tapi,,,

Beberapa hari yang lalu, saat-saat materi pretest meminta untuk ditemani setiap hari, ada satu hal yang membuat gusar pikiran ini. Rindu. Iya rindu. Namun yang menjadi pertanyaan yakni, "Rindu kepada siapa?" Beberapa orang melintas dipikiran kala itu. Hmm, tak hanya kali itu, namun kali saat aku tuliskan ini pun juga. Dia kah? Atau dia? Mungkinkah dia?
Dia-
Dia-
Dia-
Dia yang mana? Itulah pertanyaan terakhirnya.
Pertanyaan yang akupun tak tahu jawabannya. 

Beberapa waktu lalu pun saat menunggu antrian kamar mandi kost, ada satu pertanyaan melintas dari kakak tingkatku. "Hen, kamu ndak kepengen pacaran?"

Sesaat aku pun terdiam dengan pertanyaan ini. Pertanyaan yang aku sendiri masih menguatkan hati untuk tidak melakukan itu.

Dan jawabanku untuknya "InsyaAllah ndak, pengennya waktu udah halal aja, lebih romantis."

Mulutku memang perlahan sudah bisa mengeluarkan kata-kata demikian. Tetapi, jika perasaan rindu yang tiba-tiba muncul tanpa mengenal waktu, dibuatnya kacau lah pikiran ini.

Yaa Rabb, kuatkanlah hamba dalam masa penantian ini. Penantian yang pasti akan terungkap semua misteri yang selama ini hamba cari.

Jumat, 28 Agustus 2015

Di Tengah Kegalauan


Entah mengapa, malam-malam begini hati terasa tak seperti biasanya. setelah mata terfokus selama hampir 2 jam lamanya untuk menonton film "99 Cahaya di Langit Eropa" lantas iseng-iseng melanjutkan hal lain karena power laptop yang masih lumayan dan ditemani lagu sendu "Kisah Kita" yang dinyanyikan Vidi, tiba-tiba virus galau mengancamku. Kembali teringat pada sesuatu. tapi, ditengah kegalauan ini, beruntung aku temukan tulisan ini di file dokumenku. 

Dan jadilah ku postingkan tulisan ini disini. Aku sendiri lupa, kapan aku pertama kali membaca, siapa yang menulisnya, alamat web nya dan mengapa aku simpan tulisan orang ini. But, aku rasa ini penting. Terutama penting bagi diri ku pribadi.
..........................................................................

Jelang akhir tahun, banyak pelajar dan mahasiswa yang berjibaku dengan ujian akhir semester. Demi memperoleh nilai yang memuaskan, belajar mati-matian pun dilakukan. Tak jarang dalam prosesnya rasa penat dan bosan datang membayang. Mendapat nilai tinggi di tengah stres yang tinggi pula, tentu menjadi beban tersendiri. Menyerupa sosok idealis bagi sebagian anak akhirnya menjadi pilihan terakhir; “Ah, tak apa menyontek, yang penting nilaiku bagus.”

Fenomena menyontek di kalangan pelajar dan mahasiswa begitu lazim, hingga sosok idealis dan radikal macam Andri Rizki Putra menjadi buah bibir masyarakat. Penulis “Orang Jujur Tidak Sekolah” itu, ramai diberitakan media massa karena berani menentang sekolahnya yang memberi contekan saat Ujian Nasional. Hal luar biasanya, ia mampu belajar sendiri tanpa bersekolah di SMA formal, kemudian lulus dengan predikat cum laude dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Kuliahnya, yang ia tembus dengan berbekal ijazah paket C, hanya ia jalani selama 3 tahun.

Pribadi sekuat dan setegar itu, apa rahasianya? Inilah 6 hal yang menjadi kekuatan Rizki, yang ia bagikan dalam acara sharing “Yang Muda Berani Beda”, di Gedung Wakaf Pro Bandung Sabtu (15/11) lalu:
1. Faith
Sebagai Muslim, kekuatan terbesar kita adalah keyakinan pada Allah SWT, serta pada diri sendiri. Kadang kita memiliki stigma atas potensi diri, dan itu mengganggu. Namun yang dapat mengenali dan mengatasinya, tetap diri kita sendiri.
2. Do what you love
Lakukan apa yang kamu sukai. Jangan mengambil keputusan hanya untuk terlihat pintar, atau karena itu terkesan prestisius. Bila melakukan sesuatu berdasarkan bakat dan apa yang kita cintai, pasti hasilnya maksimal.
3. Open minded
Jangan tutup diri dari opini orang lain. Jangan sampai kita menjadi pribadi yang arogan.
4. Character
Karakter kita pun merupakan hal yang penting. Karakter kita sendiri, terbentuk saat kita mengambil suatu keputusan, itu pun tidak bisa dalam waktu yang sebentar. Kunci pertamanya, yakni mengenal diri sendiri.
5. Ikhlas dan pasrah
Manusia selalu punya ambisi. Namun di sisi lain, kita cenderung “mendikte”. Pada akhirnya, kemampuan untuk ikhlas dan pasrah atas hasil, itulah yang penting. Orang yang mampu menguasai keduanya, jelas punya kecerdasan emosional. Kecerdasan itu yakni kemampuan mendengar, menyerap, dan mengimplementasikan.
6. A duty to act
Semakin tinggi pendidikan, semakin besar kewajiban kita untuk membantu orang lain. Figur yang dibutuhkan dunia saat ini pun bukanlah mereka yang berpengetahuan luas atau memiliki IQ cemerlang. Tapi, mereka yang mampu mengimplementasikan atau merealisasikan.

Putus sekolah sendiri bagi Rizki, merupakan wujud kemarahannya. Sebelumnya, ia sempat sekolah di SMA formal selama 1 tahun. Namun akhirnya ia memutuskan keluar, menjalankan metode “unschooling”. Kini, ia tengah mengembangkan Yayasan Pemimpin Anak Bangsa (YPAB), yang bertujuan untuk membantu anak-anak putus sekolah. Anak-anak itu, diajari dan dibimbing hingga meraih Ijazah Kesetaraan Paket A, B, dan C.
Meski sempat membuatnya sakit hati pada sistem, idealisme yang Rizki pegang erat-erat tak lantas dijadikan alasan untuk menyerah. Di tengah tekanan lingkungan, Rizki mampu bangkit sebagai contoh pemuda jujur, yang mengusahakan kebaikkan bagi sesama pelajar. Kalau Rizki bisa, masa kita tidak?

Senin, 03 Agustus 2015

Sempat Terlupakan

Begitu ku buka blog ini, terasa benar-benar telah lama aku tinggalkan dunia baruku ini. Postingan terakhir hampir empat bulan yang lalu. Empat bulan tanpa membuka sedikit pun. Menengok pun tidak. Jika kubayangkan dunia baruku ini sebuah rumah, pasti akan sangat kotor rumahku itu, karena tak pernah disinggahi pemiliknya. Entahlah, aku sendiri juga tak paham kenapa bisa begini. Hanya sedikit yang teringat jika 4 bulan itu diisi dengan tumpukan laporan praktikum yang selalu setia meminta untuk ditemani setiap hari, terlebih di akhir-akhir minggu. Membuka laptop dan tentunya bermain di taman dunia maya pun hanya untuk bermain petak umpet mencari-cari bahan materi. Lantas menyusun teka-teki untuk dijadikan landasan teori dan tentunya pembahasan atas praktikum yang telah dijalani. 

Setidaknya itulah yang aku ingat sekarang, mengapa dunia baruku ini sepi sekali. 


Tapi, alhamdulillah. Walau lama tak ku singgahi, namun tetap ada hasrat yang mendorong ku untuk mampir disini walau sejenak untuk kembali membereskan debu-debu rumahku yang lama tak ku sapu, hehe.