Senin, 16 Februari 2015

Aku Mencintai Kehidupanmu

Silih datang berganti
Datang, lalu....
Kembali, kemudian
Datang, kemudian
Kembali, lalu...
Berganti, seperti malam berganti pagi
Dari sekian yang datang
Ada perbedaan yang menjadi benar-benar pembeda diantara kalian

Ku temukan lain pada dirimu
Yang tak kutemukan diantara yang lainnya
Ada yang berbeda dari dirimu
Yang tak kutemukan diantara yang lainnya
Ada yang begitu menyentuh nuraniku
Yang tak kutemukan diantara yang lainnya

Entah ini ilusiku ataukah benar-benar ada pada diriku kini
Aku melihat ada kehidupan yang lain pada dirimu
Yang membuatmu menjadi begitu memotivasiku
Aku melihat ada kerja keras di masa lalu mu hingga saat ini
Yang membuatmu menjadi setangguh ini

Ku benar-benar menemukan lain pada dirimu
Yang tak kutemukan diantara yang lainnya
Namun yang kau tak perlu tahu
Bahwa aku
Aku
Aku mencintai kehidupanmu
Kehidupan yang membuat ku tahu
Bahwa hidup adalah sebuah perjuangan
Perjuangan yang semestinya dibela
Hingga Allah menilai seberapa usaha keras yang telah terlaksana

KU MENANTIMU

Teringat betul pada status kawan SMP ku belum lama ini 

Maaf aku tak mau hanya bertukar coklat, yang
aku mau hanya bertukar tulang. Aku menjadi 'tulang punggung mu' dan kamu menjadi 'tulang rusukku'

Sebuah kalimat sederhana, namun cukup mengena di hatiku. Bayangku terbang pada seseorang, ya memang betul seseorang, namun entah siapa. Seseorang yang sampai detik ini ku tunggu kehadirannya. Seseorang yang telah Dia persiapkan untukku. Seseorang yang ku tunggu untuk mengetuk hatiku, dan mengetuk pintu rumahku untuk benar-benar meminta ku. Yang ku lakukan sekarang adalah benar-benar menunggu sembari memantaskan diriku untuk menyambut lelaki pilihan-Mu. 

Memantaskan diri untuk bekal hidupku bersamanya nanti. Sampai sekarang hanya ini yang kuyakini "Laki-laki yang baik pantas untuk perempuan yang baik". Aku ingin menjadi yang terbaik, karena aku menginginkan pendamping yang terbaik. Pendamping yang bisa mengawalku dan anak-anak ku nanti menuju taman surga-Nya. Cukup, hanya itu yang aku impikan sampai tiba saatnya nanti. Bukan wajah yang ku minta, bukan keluarga ternama yang melekat padanya, namun hati yang ikhlas untuk saling cinta mencintai karena-Nya. 

Teringat akan sesuatu entah ini dari hadis atau ayat Al-Qur'an, bahwa ada beberapa golongan yang akan dijamin masuk surga-Nya salah satunya adalah dua insan yang saling mencintai karena-Nya, bertemu karena-Nya dan berpisah karena-Nya. Memang terlihat sederhana, namun itu amatlah spesial untukku. Ya spesial, karena aku telah beruntung mendapatkanmu, lelaki pilihan yang benar-benar Allah siapkan untukku. 



Aku sadar akan banyaknya godaan yang silih datang bergantian. Terkadang ada yang memberi perhatian, ada pula yang memberi yang lain lagi. Sungguh, hanya dengan tali-Mu lah aku bergantung. Aku tak ingin terjebak, aku ingin selamat. Kau pun layaknya seorang nahkoda yang akan selalu menuai badai, goncangan dan terpaan di tengah-tengah perjalananmu. Dengan saling menjaga hati, ku percaya kau akan sampai di pelabuhan terakhirmu nanti yakni aku yang setia menunggumu hingga kau benar-benar datang tuk meminta dengan gagah berani pada orang-orang yang ku cintai. Hingga nantinya akan aku temani dirimu menjadi nahkoda tertangguh yang pernah ada untuk bersama mengarungi lagi samudera yang luas di depan sana.
 

Rabu, 11 Februari 2015

NENEK TUA PENUH SENYUMAN

Tak sengaja kamera yang ada ditanganku membidik sebuah objek yang tak ku sangka melintas di hadapanku. "Objek yang menggambarkan sebuah kerja keras", inilah alasanku waktu itu mengapa ku segerakan mengatur fokus kamera dan dengan gerakan cepat ku tembakan bidikan. Sejenak ku pandangi hasil bidikanku, ada sebersit rasa bangga sekaligus haru saat melihatnya.

Bangga karena, ternyata walau kameramen gadungan yang disewa (mungkin lebih tepatnya kerena memang mendapat jatah dalam kepanitiaan menjadi tim dokumentasi dalam sebuah acara bakti sosial di sebuah desa kecil di Kebumen) ternyata hasilnya tak separah yang kukira. Namun, ada rasa lain yang kurasakan yakni 'haru' yang segera menyelimuti hati ini. Terharu akan kerja keras beliau yang terus bersemangat walau kerentaan telah ada.
 
Pikiranku melayang pada dua sosok yang mulai renta di rumahku, bapak dan ibu. Ku bayangkan sejenak, "akankah dua kunci surga ku saat ini akan seperti ini kelak?" Ooooh Tuhanku, Allahhu Rabbi, berilah ku kesempatan untuk memberikan yang terbaik di masa tua mereka, inilah doa yang ku panjatkan saat itu.

 Ku lihat kembali nenek itu yang saat itu tengah melintas diantara kami, kumpulan anak-anak yang bermain di halaman balai desa setempat. Tersaji senyuman indah dan tulus lagi mempesona dari nenek melihat kebahagiaan yang menyelimuti kami. Walau entahlah, apakah nenek juga sedang bahagia pula, ku harap juga. Ya Allah ku titipkan salam ini padanya, berilah beliau umur panjang, kesehatan, juga kedamaian dalam sisa hidupnya.

Berawal dari Pemberanian Diri



Kisah ini ku torehkan pertama kalinya ketika ku beranikan diri membuat blog ini. Tepat pada tanggal 11 Februari 2015 pada pukul 21.00 ku coba kerahkan jari-jari ini untuk sejenak membantuku. Bukan tanpa sebab aku baru merealisasikannya sekarang, namun mungkin sekaranglah waktu yang paling tepat. Setidaknya dengan adanya blog ini, aku dapat belajar satu hal bahwa “Memulai itu memang terlihat sangat susah, tetapi dengan tekad maka semuanya tak kan jadi masalah”. Dari pemberanian ini, ku coba selaraskan ide-ide yang terlintas dalam benak ini tuk ku tuliskan dengan kata-kata. Dengan niat tulus untuk belajar, semoga kedepannya semakin berkembang.

Sekian…..