Yaa Allah Yaa Rabb
Kau tahu hati ini terikat suka akan indahnya seorang insan ciptaan-Mu
Tapi aku takut cinta yang belum waktunya ini menjadi penghalangku mencium surga-Mu
Berikan aku kekuatan menjaga cinta ini sampai tiba waktunya
Andaikan Engkau pun mempertemukanku dengannya kelak, berikan aku kekuatan melupakannya sejenak
Bukan karena aku tak mencintainya
Justru karena aku sangat mencintainya
Dari Abdullah Ibnu Amar al-Ash radhiallahu anhu bahwa Nabi bersabda: “Keridhoan Allah tergantung kepada keridhoan orang tua dan kemurkaan Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua.” (Hadits riwayat Tirmidzi)
Jumat, 29 September 2017
Pernikahan
Pernikahan adalah...
Suatu tantangan yang harus dihadapi
Suatu perjuangan yang harus dimenangkan
Suatu kesusahan yang harus digali
Suatu tragedi yang harus dialami
Suatu kegembiraan yang harus disebarkan
Suatu cinta yang harus dinikmati
Suatu tugas yang harus dilaksanakan
Suatu resiko yang harus diambil
Suatu anugerah yang harus dipergunakan
Suatu impian yang harus diwujudkan
Suatu perjalanan yang harus diselesaikan
Suatu janji yang harus ditepati
Suatu keindahan yang harus dikagumi
Suatu persoalan yang harus dipecahkan
Suatu kesulitan yang harus dikalahkan
Suatu rakhmat yang harus disyukuri dan dipelihara
Baarakallahulakuma wabaaraka'alaikuma wajama'abainakuma fiikhoir
#Ditulis ulang berdasarkan pembatas buku Kado Pernikahan Untuk Istriku karya Mohammad Fauzil Adhim milik Ibu Anita Indrasari (dosen sekaligus mentor).
#Sepertinya tulisan dan buku ini adalah kado pernikahan dari sahabat beliau.
Rabu, 13 September 2017
Kau Yang Ditakdirkan Untukku
Pembaca masih ingat dengan tulisan saya yang menceriterakan bahwa ketika kecil saya memiliki kesenangan mendendangkan lagu Indonesia Raya alias suka nangis, sehingga saat saya nangis, tetangga selalu memberi keterangan bahwa saya sedang menyanyikan lagu kebangsaan.
Ya, ketika itu memang hampir setiap hari saya selalu nangis. Ada saja penyebababnya.
Namun, seiring dengan pertambaham usia, tentu saya sudah tak seperti dulu lagi. Sekarang hampir bisa dihitung berapa kali saya menangis. Tentu dengan sebab-sebab tertentu yang hati dan jiwa saya sudah tak mampu menahan rasa yang sedang menyelimuti, sehingga air mata pun tak mampu terbendung karena penuhnya beban di dada.
Teringat ketika 3 tahun kuliah, hanya beberapa kali saja saya menangis.
Tahun pertama:
Ketika masa-masa transisi antara menghadapi kenyataan yang tak sesuai dengan yang diharapkan. Begitu sesak nya hati ini karena belum menemukan cahaya. Rasanya seperti berjalan di terowongan yang panjang nan gelap. Alhamdulillah, Allah menuntunku kepada cahaya-Nya. Cahaya diatas cahaya. Allah pula yang mengirimkan pelukan seorang teman, salah satunya pelukan hangat sahabatku Windi.
Tahun kedua:
Aku kembali menangis di pelukan Windi karena perilaku seorang teman. Tak perlu saya rincikan lebih lanjut, mengapa baru kali ini saya benar-benar tak mampu membendung air mata, padahal sebelum ini saya kerap bertemu dengan banyak pribadi, terutama ketika di bangku sekolah dulu. Namun, alhamdulillah, Allah menuntun saya kembali. Bahkan akhirnya atas kejadian ini saya semakin belajar bahwa masing-masing individu memiliki keunikan watak masing-masing.
Tahun ketiga:
Ketika itu, akan berlangsung sebuah kegiatan di forum mahasiswa muslim di kampus, dan atas izin Allah saya termasuk salah satu panitia acara. Namun qadarullah, saya dikirimi foto ibu saya yang sedang duduk termenung diatas kursi rodanya dari kakak ipar, dengan pesan singkat "Te, uti kangen karo kowe". Kala itu ibu baru beberapa hari pasca dirawat hampir 1 bulan di 2 rumah sakit dan qadarullah sempat masuk ICU beberapa hari. Bagaimana bisa saya menahan untuk tak menangis karena saya belum bisa melakukan banyak hal ketika ibu sakit. Tak kuat menahan rasa, qadarullah setelah mendapat pelukam kembali dari Windi, aku diantar langsung ke stasiun untuk pulang ke rumah. Dan Windi dkk lah yang membantu tugasku di kepanitiaan acara.
Tahun ketiga ini, tangisku tak hanya sekali terjadi seperti tahun-tahun sebelumnya.
Yaa, judul yang disematkan diatas menjadi pengingat tangis ku yang ki ketiga ditahun ketiga ini. Tangisku yang kedua terjadi ketika Allah menguji hati dengan seseorang. Tangis yang kembali mendapat pelukan kedamaian dari Windi serta ketenteraman jiwa karena Allah menuntun langkah kaki ini ke Masjid Nurul Huda. Alhamdulillah, hati sudah merasa sedikit damai. Namun, qadarullah Allah kembali menguji dengan hal yang sama kembali.
Awalnya mencoba untuk kuat, tapi ternyata benteng pertahananku kembali runtuh. Tangisku pecah ketika mengikuti suatu kajian bersama Ust Hanan Attaki di UNS. Ya, qadarullah, kembali hati dipenuhi sesak. Entah, mengapa begitu sesak. Rasanya baru pertama kali tangisku berlanjut ke part-2 dengan penyebab yang sama. Qadarullah, tangisku pecah saat mendengar tausiyah Ustadz. Sampai akhir acara air mata tak mampu saya bendung, karena malu saya tutup sebagian muka ini dengan masker, berharap tak ada yg melihat mata sembab yang air mata didalamnya terus saja membanjir.
Sampai lagi-lagi takdir Allah kembali berskenario. Di tengah-tengah penutupan acara, seorang akhwat meminta pada pengisi acara penutupan untuk menyanyikan lagu yang menjadi judul cerita ini. Beliau terlihat begitu bahagia karena sebentar lagi akan menggenapkan separuh agamanya. Kembali, air mata yang sedikit mulai bisa terbendung kembali hancur pertahanannya. Tangisku kembali pecah, teringat akan skenario tarik ulur yang Allah kirimkan. Tak kuat menahan itu, kurengkuh tangan seorang teman yang saya ajak mengikuti kajian ini. Kini kudapatkan sedikit ketenangan bukan dari pelukan Windi karena dia tak bisa hadir di kajian ini, melainkan genggaman tangan Denis. Tangisku kembali kubawa hingga Masjid Nurul Huda. Sembari bermunajat di waktu dhuhur, alhamdulillah saya temukan kembali ketenangan jiwa.
Allah kuatkan saya dengan skenario-Nya. Hingga qadarullah takdir tarik ulur ini kembali terjadi, saya sudah jauh lebih kuat mengokohkan benteng air mata ini.
Semakin yakin bahwa rencana Allah itu yang terbaik, Allah's plan is perfect.
Ya, ketika itu memang hampir setiap hari saya selalu nangis. Ada saja penyebababnya.
Namun, seiring dengan pertambaham usia, tentu saya sudah tak seperti dulu lagi. Sekarang hampir bisa dihitung berapa kali saya menangis. Tentu dengan sebab-sebab tertentu yang hati dan jiwa saya sudah tak mampu menahan rasa yang sedang menyelimuti, sehingga air mata pun tak mampu terbendung karena penuhnya beban di dada.
Teringat ketika 3 tahun kuliah, hanya beberapa kali saja saya menangis.
Tahun pertama:
Ketika masa-masa transisi antara menghadapi kenyataan yang tak sesuai dengan yang diharapkan. Begitu sesak nya hati ini karena belum menemukan cahaya. Rasanya seperti berjalan di terowongan yang panjang nan gelap. Alhamdulillah, Allah menuntunku kepada cahaya-Nya. Cahaya diatas cahaya. Allah pula yang mengirimkan pelukan seorang teman, salah satunya pelukan hangat sahabatku Windi.
Tahun kedua:
Aku kembali menangis di pelukan Windi karena perilaku seorang teman. Tak perlu saya rincikan lebih lanjut, mengapa baru kali ini saya benar-benar tak mampu membendung air mata, padahal sebelum ini saya kerap bertemu dengan banyak pribadi, terutama ketika di bangku sekolah dulu. Namun, alhamdulillah, Allah menuntun saya kembali. Bahkan akhirnya atas kejadian ini saya semakin belajar bahwa masing-masing individu memiliki keunikan watak masing-masing.
Bahkan ini pula terjadi pada keluarga inti, yang sama-sama satu rahim saja memiliki keunikan watak. Alhamdulillah 'alaa kullihal, Allah memberikan pelajaran kepada saya untuk semakin menjadi pribadi yang bisa melihat Maha Kuasa Nya Allah yang telah menciptakan manusia dengan segala kelengkapan nya. Sehingga semakin yakin bahwa Allah lah Sang Maha membolak balikkan hati. Dan kini alhamdulillah, meski begitu, jalinan pertemanan kami tetap baik. Dan kini ia mulai menemukan jalan hijrahnya. Tak ayal, kami sering kali mengikuti beberapa kajian bersama, alhamdulillah.
Tahun ketiga:
Ketika itu, akan berlangsung sebuah kegiatan di forum mahasiswa muslim di kampus, dan atas izin Allah saya termasuk salah satu panitia acara. Namun qadarullah, saya dikirimi foto ibu saya yang sedang duduk termenung diatas kursi rodanya dari kakak ipar, dengan pesan singkat "Te, uti kangen karo kowe". Kala itu ibu baru beberapa hari pasca dirawat hampir 1 bulan di 2 rumah sakit dan qadarullah sempat masuk ICU beberapa hari. Bagaimana bisa saya menahan untuk tak menangis karena saya belum bisa melakukan banyak hal ketika ibu sakit. Tak kuat menahan rasa, qadarullah setelah mendapat pelukam kembali dari Windi, aku diantar langsung ke stasiun untuk pulang ke rumah. Dan Windi dkk lah yang membantu tugasku di kepanitiaan acara.
Tahun ketiga ini, tangisku tak hanya sekali terjadi seperti tahun-tahun sebelumnya.
Yaa, judul yang disematkan diatas menjadi pengingat tangis ku yang ki ketiga ditahun ketiga ini. Tangisku yang kedua terjadi ketika Allah menguji hati dengan seseorang. Tangis yang kembali mendapat pelukan kedamaian dari Windi serta ketenteraman jiwa karena Allah menuntun langkah kaki ini ke Masjid Nurul Huda. Alhamdulillah, hati sudah merasa sedikit damai. Namun, qadarullah Allah kembali menguji dengan hal yang sama kembali.
Awalnya mencoba untuk kuat, tapi ternyata benteng pertahananku kembali runtuh. Tangisku pecah ketika mengikuti suatu kajian bersama Ust Hanan Attaki di UNS. Ya, qadarullah, kembali hati dipenuhi sesak. Entah, mengapa begitu sesak. Rasanya baru pertama kali tangisku berlanjut ke part-2 dengan penyebab yang sama. Qadarullah, tangisku pecah saat mendengar tausiyah Ustadz. Sampai akhir acara air mata tak mampu saya bendung, karena malu saya tutup sebagian muka ini dengan masker, berharap tak ada yg melihat mata sembab yang air mata didalamnya terus saja membanjir.
Sampai lagi-lagi takdir Allah kembali berskenario. Di tengah-tengah penutupan acara, seorang akhwat meminta pada pengisi acara penutupan untuk menyanyikan lagu yang menjadi judul cerita ini. Beliau terlihat begitu bahagia karena sebentar lagi akan menggenapkan separuh agamanya. Kembali, air mata yang sedikit mulai bisa terbendung kembali hancur pertahanannya. Tangisku kembali pecah, teringat akan skenario tarik ulur yang Allah kirimkan. Tak kuat menahan itu, kurengkuh tangan seorang teman yang saya ajak mengikuti kajian ini. Kini kudapatkan sedikit ketenangan bukan dari pelukan Windi karena dia tak bisa hadir di kajian ini, melainkan genggaman tangan Denis. Tangisku kembali kubawa hingga Masjid Nurul Huda. Sembari bermunajat di waktu dhuhur, alhamdulillah saya temukan kembali ketenangan jiwa.
Allah kuatkan saya dengan skenario-Nya. Hingga qadarullah takdir tarik ulur ini kembali terjadi, saya sudah jauh lebih kuat mengokohkan benteng air mata ini.
Semakin yakin bahwa rencana Allah itu yang terbaik, Allah's plan is perfect.
"But perhaps you hate a thing and it is good for you. And perhaps you love a thing and it is bad for you. And Allah knows, while you not know".
Senin, 21 Agustus 2017
Sebuah Kesempatan
SAMBUTAN PERWAKILAN MAHASISWA DALAM
ACARA
SILATURAHIM D3 ANALIS KESEHATAN
UNIVERSITAS SETIA BUDI SURAKARTA
Bismillahirrahmanirrahim….
Assalamu’alaikum Warahmatullah
Wabarakatuh
..............Pembukaan bahasa arab..............
..............Pembukaan bahasa arab..............
Yang terhormat Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Setia Budi, atau yang mewakilinya
Yang saya hormati Ketua Program Studi D3 Analis
Kesehatan Universitas Setia Budi
Yang saya hormati Bapak Ibu Dosen dan Karyawan serta
teman-teman yang saya banggakan.
Pertama dan yang paling utama, marilah kita panjatkan
syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga
pada hari ini kita dapat berkumpul bersama dalam acara “Silaturahim D3 Analis
Kesehatan Universitas Setia Budi” yang insyaallah kita harapkan berkah dan
ridho Allah dari awal hingga purnanya acara ini. Tak lupa, sholawat serta salam
kita haturkan kepada suri tauladan kita Nabiullah Muhammad SAW yang telah
membawa kita dari zaman kegelapan kepada zaman yang terang benderang dan yang
kita nantikan syafa’atnya kelak di yaumil akhir.
Perkenankanlah saya Diah Anggraheni Setianingsih,
dengan izin Allah mendapat amanah selaku perwakilan mahasiswa untuk
menyampaikan sepatah dua patah kata pada kesempatan hari ini.
Bapak, Ibu serta teman-teman yang saya muliakan.
Kepakan sayap nan
indah serta keelokan kupu-kupu yang terbang diantara pesona taman bunga, tidak
lepas dari sebuah kata yakni perjuangan.
Sebuah proses perjuangan metamofosis yang diawali dari sebuah telur-ulat-kepompong
dan akhirnya menjadi seekor kupu-kupu indah yang terbang untuk mengambil
saripati bunga serta menebar manfaat dengan membantu proses penyerbukan. Sama
namun tak serupa, metamorfosis ini pulalah yang kami alami selama hampir 3
tahun merajut mimpi dan asa dengan bergabung di D3 Analis Kesehatan Fakultas
Ilmu Kesehatan Universitas Setia Budi.
Tepat pada 3 September
2014 kami memulai fase-fase metamorfosis kami. Kami bagaikan telur-telur yang
datang dari berbagai penjuru bumi pertiwi, dari Sabang sampai Merauke, memulai
langkah-langkah perjuangan kami dalam bermetamorfosis. Telur-telur yang akhirnya
lambat laun berubah menjadi ulat, kemudian menjadi kepompong. Pada fase inilah
peran Bapak Ibu tidak ternilai harganya bagi kami. Bagaikan ulat yang membutuhkan
banyak dedaunan sebagai bahan pangan serta bagaikan kepompong yang memerlukan
banyak kesabaran serta keyakinan dalam menanti fase berikutnya, kamipun tak ubahnya
sama seperti seekor ulat. Kami memerlukan berbagai macam ilmu serta
keterampilan sebagai bahan pangan kami dalam mendukung masa depan kami nanti. Dengan
penuh kesabaran dan keilkhasan, Bapak Ibu selalu mendampingi kami, bahkan
disaat-saat keterpurukan kami, Bapak Ibu senantiasa memberikan dukungan serta
doa kepada kami untuk selalu yakin bahwa dengan pertolongan Allah dan tekad
yang kuat kami mampu untuk melanjutkan fase metamorfosis kami. Meskipun banyak
kenakalan yang kami lakukan, keluh kesah yang selalu kami ajukan, namun Bapak
Ibu tetap setia mendampingi fase perjuangan kami. Sampai pada saat ini, kami
lah kepompong-kepompong yang masih memerlukan dukungan serta doa dari Bapak
Ibu. Masih ada beberapa fase yang harus kami lewati sebelum akhirnya kami akan
menjadi kupu-kupu indah insyaallah pada bulan Oktober nanti. Kupu-kupu yang siap
terbang untuk mengambil estafet kepemimpinan serta menebar manfaat bagi sesama dengan
bekal ilmu yang telah kami peroleh.
Bapak, Ibu yang saya
hormati.
Tiada kata yang patut
kami haturkan kecuali rasa hormat serta terima kasih yang tak terkira atas
dedikasi Bapak Ibu dalam mendidik kami. Hanya Allah SWT yang mampu membalas
kebaikan Bapak dan Ibu. Kami doakan dedikasi Bapak Ibu dapat menjadi amal
jariyah yang pahalanya selalu dapat tertuai meski kelak tak ada di dunia ini. Serta,
kami meminta maaf yang sebesar-besarnya atas segala kesalahan yang kami lakukan
kepada Bapak Ibu selama kami menjalani fase-fase metamorfosis kami hampir 3
tahun ini. Doakan kami nantinya menjadi manusia-manusia yang menggunakan dengan
bijak ilmu yang telah Bapak Ibu berikan, sebagai perwujudan bakti kami kepada
Bapak Ibu yang telah menjadi perantara Allah dalam mempelajari ilmu-Nya.
Sehingga manfaat dapat tersemai pada segala sisi kehidupan, khususnya pada
bidang kesehatan.
Diawali dengan
diadakannya acara ini, semoga ikatan silaturahim tetap terjalin diantara Bapak,
Ibu serta kami, meski nantinya sisi-sisi ruang dan waktu lah yang memisahkan
fisik kita, namun insyaallah tidak dengan jiwa kita.
Demikianlah, sepatah
dua patah kata yang dapat saya sampaikan pada kesempatan hari ini. Kebaikan datang
nya dari Allah SWT dan kesalahan murni datangnya dari diri saya pribadi, saya
mohon kesediaan Bapak Ibu serta teman-teman untuk memberikan maaf atas
kesalahan tindakan maupun ucapan saya dalam sambutan ini.
Sekian.
Akhirul kalam,
Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.
...................................................................................................................................................
Inilah ikhtiar pembuatan naskah sambutan yang coba aku buat untuk acara besok pagi. Mudah-mudahan Allah menuntunku dalam bertindak dan berucap, sehingga hanya kata-kata dan sikap yang bermanfaat yang kelak akan terpancar dari diri yang dipenuhi dengan dosa ini. Bismillah, Lillahita'ala. Hanya ridho-Mu lah yang senantiasa diri ini harapkan.
Jumat, 05 Mei 2017
Nun Ha, Alif Qaf Mim, Alif Alif
Dalam sebuah hadits yang shahih, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
سَبْعَةٌ
يُظِلُّهُمْ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ:
اْلإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ، وَرَجُلٌ
قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللهِ
اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دعته امْرَأَةٌ ذَاتُ
مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ
بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ
يَمِيْنُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan ‘Arsy Allah Ta’ala dimana tidak ada naungan kecuali hanya naungan Allah Ta’ala. Yaitu:
1. Pemimpin yang adil
2. Pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah Ta’ala
3. Seorang yang hatinya senantiasa bergantung di masjid
4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah Ta’ala. Mereka berkumpul karena Allah dan mereka pun berpisah juga karena Allah Ta’ala.
5. Seorang yang diajak wanita untuk berbuat yang tidak baik, dimana wanita tersebut memiliki kedudukan dan kecantikan, namun ia mampu mengucapkan, “Sungguh aku takut kepada Allah”.
6. Seorang yang bersedekah dan dia sembunyikan sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.
7. Seorang yang mengingat Allah dalam keadaan sendirian sehingga kedua matanya meneteskan air mata.
1. Pemimpin yang adil
2. Pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah Ta’ala
3. Seorang yang hatinya senantiasa bergantung di masjid
4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah Ta’ala. Mereka berkumpul karena Allah dan mereka pun berpisah juga karena Allah Ta’ala.
5. Seorang yang diajak wanita untuk berbuat yang tidak baik, dimana wanita tersebut memiliki kedudukan dan kecantikan, namun ia mampu mengucapkan, “Sungguh aku takut kepada Allah”.
6. Seorang yang bersedekah dan dia sembunyikan sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.
7. Seorang yang mengingat Allah dalam keadaan sendirian sehingga kedua matanya meneteskan air mata.
Suatu kenikmatan yang luar biasa, Allah SWT mengizinkan diri yang dipenuhi dosa ini mengenal ketiganya belum lama ini (Nun Ha, Alif Qaf Mim, Alif Alif. Ketiganya menjadi perantara diri ini untuk sedikit demi sedikit menemukan jawaban atas pertanyaan "Apa itu Islam?"
Allah Ta’ala berfirman:
{مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي وَمَنْ يُضْلِلْ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ}
“Barangsiapa yang diberi petunjuk
oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk (dalam semua kebaikan
dunia dan akhirat); dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka
merekalah orang-orang yang merugi (dunia dan akhirat)” (QS al-A’raaf:178).
Dalam ayat lain, Dia Ta’ala juga berfirman:
{مَن يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا}
“Barangsiapa yang diberi petunjuk
oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk (dalam semua kebaikan
dunia dan akhirat); dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak
akan mendapat seorang penolongpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya” (QS al-Kahf:17).
Tautkan hati ini kepada ketiganya Yaa Rabb atau kepada perantara-Mu yang lainnya, yang dengan nya hamba-Mu ini mengenal agama yang lurus, dinul Islam.
Selasa, 11 April 2017
Tiba-Tiba
Tak ada yang
dirasakan kecuali perasaan kaget yang timbul secara tiba-tiba.
Bagaimana tidak???
Tahu-tahu siang ini ada
yang mengetuk pintu kamar kost sembari mengucapkan salam. Setelah kubuka,
masyaallah……
Bapak datang ke
Solo. Tak ada kabar apapun sebelumnya, tahu-tahu udah nongol aja. Dan yang
paling penting adalah ada buah tangan yang dibawa, hehe. Alhamdulillah punya
kawan untuk nglembur part 2, insyaallah.
Ternyata beliau
punya hajat ke Solo karena mau menjenguk kakak perempuan beliau di Mojogedang
kabupaten Karanganyar Solo (kampung halaman bapak) yang baru-baru ini diuji
dengan nikmat sakit dan sempat diopname di RSUD Karanganyar.
“Heni boleh ikut
nggak Pak?”
“Ra sah, dirampungke
wae tanggungan ne”
“Ya sudah”
“Waaahh, Heni buat
kopi ya?”
“Hehe, kan
ngelembur, mah wajib punya amunisi.”
……………………………………………………………………..
Ya, sekilas saja karena Bapak memang hanya mampir sebentar untuk melihat kondisi anak gadisnya. Alhamdulillah
sempat bercerita tentang satu hal yang sedang dan akan direncanakan.
Alhamdulillah,
disaat diri ini mulai membutuhkan kembali penyemangat (karena sedang sedikit
pusing dengan penghitungan kadar suatu zat yang dianalisa dengan
spektrofotometer UV-Vis) ada orang tercinta yang datang berkunjung…
Alhamdulillah……..
Oohhh ppm,
Ooohhh µg/mL,
Oohhhh mg/L,
Oooohhhh, kadar
boraks ku……
Hayuuukkk lembur
lagi dan besok kita sama-sama melangkah konsultasi, hehe
Senin, 10 April 2017
Bekal Ilmu
Syukur Alhamdulillah Allah memberi kesempatan
pada diri ini mendengar kajian tentang nikah yang disampaikan oleh DR. Syafiq
Reza Basalamah, MA dari sebuah frekuensi radio dakwah syari’ah lokal yang
berslogan “Dengan Syari’ah Hidup Menjadi Indah” 101,4 F.
Bismillahirrahmanirrahim…….
Inilah poin-poin yang tak ingin
terlupakan, oleh karenanya menyempatkan diri tuliskan ini sebelum mencoba
kambali bangkit menyelesaikan tugas akhir.
1. Tujuan dari pernikahan
Ringkasnya yakni jangan sampai memiliki tujuan hanya sebatas
untuk menuruti nafsu semata. Namun ada beberapa hal yang jauh lebih
penting dari itu semua yakni:
a. Memperbanyak umat Nabi Muhammad SAW
b. Menyempurnakan keimanan, atau separuh
agama
c. Menundukkan pandangan dan menjaga
kemaluan
2. Memilih pasangan
Bagi seorang laki-laki dapat memilih calon pasangan dari 4
hal yakni kecantikan, kedudukan, harta dan yang paling baik yakni dari
agamanya.
Bagi seorang perempuan pun juga demikian.
Tiga hal selain agama akan luntur dimakan waktu, namun agama
tidak dan Allah telah menjamin jika memilih karena hal ini maka akan beruntung.
3. Walimahan
Tentang hal ini sebisa mungkin untuk menghindari
praktek-praktek yang tidak sesuai syari’at. Mengawali suatu kebaikan dengan
keburukan, tak akan mungkin akan bisa terlaksana. Praktek walimahan yang
berkembang di masyarakat sering tidak sesuai dengan tuntunan misalnya, dengan
mengundang penyanyi yang minim dalam berpakaian, bercampur baur antara
laki-laki dan perempuan, seringkali justru mengundang orang-orang kaya (yang
sudah terbiasa makan makanan yang enak) bukan malah orang-orang miskin (dalam
hal ini ustadz memberikan saran misalnya ingin mengundang keduanya maka lebih
baik, karena pelaksanaan walimahan dapat dilaksanakan lebih dari 1 hari),
membuat undangan (yang harganya mahal) yang ujung-ujungnya hanya berakhir di
tempat sampah (dalam hal ini ustadz juga memberikan solusi misalnya saja
membuat undangan dengan buku saku dzikir pagi dan petang atau kalender hijriah
yang didalamnya dituliskan serta undangan walimahan. Hal ini dinilai jauh lebih
besar kebermanfaatannya) dan contoh praktek-praktek walimahan lainnya. Maka perlunya
mencari llmu sebelum menjalani.
4. Prinsip-prinsip dalam pernikahan
Ringkasnya pula yakni bahwa pernikahan yang dibangun tanpa
ilmu terkadang akan mengalami porak poranda kala badai rumah tangga sedang
melanda. Oleh karenanya penting memahami prinsip dari sebuah pernikahan yang
mengharapkan ridho Allah semata agar Allah ridho kepada pernikahan ini untuk
bisa terajut kembali di Jannah-Nya nanti. Prinsip-prinsipnya yakni:
a. Saling membutuhkan
b. Saling berterima kasih
c. Saling melihat pada kelebihan bukan pada kekurangan pasangan
d. Saling memaafkan
e. Saling menutupi kekurangan
a. Saling membutuhkan
b. Saling berterima kasih
c. Saling melihat pada kelebihan bukan pada kekurangan pasangan
d. Saling memaafkan
e. Saling menutupi kekurangan
Pada poin ini bisa diambil beberapa contoh yakni: (khusus
bagi para istri) untuk tidak curhat permasalahan rumah tangga kepada orangtua,
namun bila memang memerlukan untuk curhat maka curhatlah pada orang yang
berilmu, misalnya ustadz dll. Hal ini dikarenakan bila seorang istri (anak)
menceritakan permasalahan rumah tangga pada orangtuanya maka pasti akan menghasilkan
hasil yang bukan solusi, terkadang justru hanya semakin memperkeruh
permasalahan. Hal ini disebabkan orangtua pasti
akan mengedepankan perasaan mereka sebagai orangtua yang begitu mencintai
putra-putrinya dibandingkan dengan mengedepankan logika mereka.
Hal ini wajar
karena, orangtua memiliki sifat sangat menyayangi buah hatinya. Namun perlu
para istri (anak) ingat bahwa ketika akad telah terucap maka saat itu juga surge/neraka
mereka terletak pada suaminya. Maka selesaikan permasalahan ini dengan suami
atau jika memang membutuhkan saran maka datangi orang-orang yang berilmu. Sekali
lagi karena jika curhat ke orangtua, terkadang justru memperkeruh suasana. Selain
itu pula perlu diingat bahwa janganlah membuat mereka terbebani dengan
permasalahan diri ini di masa-masa tuanya, kasihan. Beliau-beliau telah lama
lakukan ini ketika anaknya belum dipersunting orang. Biarkan mereka
beristirahat dari permasalahan pada masa tuanya.
f.
Saling
tarik-ulur
Logikanya yakni jika seutas tali sama-sama ditarik dari
masing-masing ujungnya maka tali ini akan putus. Namun jika disaat salah satu
ujung menarik, maka salah satu mengulur. Sehingga tali ini akan tetap kokoh.
g. Saling mengingatkan dalam kebaikan.
Demikian ringkasan isi kajian dari
beliau. Meski belum terjabarkan dengan gamblang karena keterbatasan waktu,
semoga bisa sebagai pengingat bagi diri ini khususnya.
--------------------------------------------------------------------------------------------
#sehidup sesurga
Langganan:
Postingan (Atom)